Hidup Murah Di Australia Itu Bukan Sengsara

Australia mahal. Kalimat itu diulang seperti pengumuman stasiun yang sudah tidak lagi didengar orang. Semua hafal bunyinya, sedikit yang benar-benar mengujinya. Yang sering mahal bukan negaranya. Yang mahal itu cara kita memakainya. Go Card di South East Queensland bisa lima puluh sen. Tapi banyak orang tetap merasa hidupnya berat. Bukan karena kartunya. Karena jam berangkatnya. … Continue reading Hidup Murah Di Australia Itu Bukan Sengsara

LOST, BUT NOT BROKE

Ada hari-hari di Australia ketika kamu merasa nyasar. Bukan soal GPS. Tapi soal batin. Sebentar di Roma Street, Brisbane, menunggu kereta yang telat. Sebentar di Flinders Street, Melbourne, menunggu hidup memutuskan mau ke mana. Kamu melihat orang-orang lewat dengan hidup yang tampak lebih rapi dari sepatu mereka. Sementara kamu: ransel berat, saldo tipis, kepala penuh … Continue reading LOST, BUT NOT BROKE

CHEAP THRILLS, DEEP FEELS

Kadang hidup di Australia itu sederhana sekali. Tidak heroik. Tidak Instagrammable. Cukup duduk di teras City Backpackers HQ Brisbane on Saturday night, menyeruput Pinot Noir diskonan dari BWS—rasanya pahit, seperti keputusan-keputusan kecil yang dulu terasa masuk akal. Di depan mata, sekelompok British guys ribut pakai English, dibalas backpackers lain pakai French, seolah dunia malam itu … Continue reading CHEAP THRILLS, DEEP FEELS

Culinary Protest: Hidangan Nikmat Tanpa Biaya

Ada yang bilang, hidup di Melbourne itu mahal. Ya, memang… kalau tiap hari nongkrong di kafe hipster yang cappuccino-nya setara harga tiket kereta ke Geelong. Tapi kalau mau sedikit kreatif, hidup bisa jadi lebih murah — dan lebih nikmat. Sabtu, 21 April 2018. Lokasinya di salah satu panti jompo di Cheltenham. Aku bukan tamu, bukan … Continue reading Culinary Protest: Hidangan Nikmat Tanpa Biaya

Makan Gratis di Panti Jompo: Siapa Bilang Murahan?

Siapa sangka, di tengah hiruk pikuk kota Melbourne yang konon mahal minta ampun, aku menemukan oase kuliner gratis yang bikin hati dan perut berdansa. Ini bukan omong kosong, bukan pula hoaks ala kadabra. Ini adalah kisah nyata dari garis depan perjuangan hidup hematku sebagai Part time kitchen hand di salah satu panti jompo di Cheltenham. … Continue reading Makan Gratis di Panti Jompo: Siapa Bilang Murahan?

Mural Brutal: Menggambarkan Kebisingan Sosial

Mural ini bukan sekadar gambar. Ia jerit bisu yang lebih lantang dari orasi parlemen.Terpampang liar di lorong entah antara Russell Place dan suara bass dari Equinox Bar—Selasa malam, 17 April 2018, dinding ini menyanyikan lagu purba tentang chaos, kolonialisme budaya, fetishisme eksotik, dan pesta tanpa ujung akal. Ada yang menari seperti dewi Bollywood tanpa dosa, … Continue reading Mural Brutal: Menggambarkan Kebisingan Sosial

Makanan Gratis: Kenikmatan atau Perangkap?

"Pada suatu siang di Cheltenham, Melbourne, tepatnya 15 April 2018, aku, seorang pengembara tak bertuan yang sedang 'mengabdikan diri' di salah satu 'penjara' lansia, disuguhi pemandangan nan kontemplatif: sepiring hidangan yang sekilas tampak sederhana, namun sarat makna. Ada ikan (atau entahlah, bentuknya sudah tersamarkan oleh genangan saus putih yang creamy, seperti janji-janji manis politikus), ditemani … Continue reading Makanan Gratis: Kenikmatan atau Perangkap?

$5 yang Lebih Bermakna dari Sekadar Kenyang

Ah, Melbourne CBD, 14 April 2018. Tanggal itu, bagi sebagian orang mungkin sekadar deretan angka. Tapi bagiku, ia menyimpan aroma, rasa, dan cerita. Bukan cerita romansa klise di gang sempit, atau drama perdebatan filsafat di bawah rindangnya pepohonan kampus. Ini kisah yang jauh lebih... visceral. Lebih jujur. Lebih kiwi. Lihatlah gambar ini, mate. Ini bukan … Continue reading $5 yang Lebih Bermakna dari Sekadar Kenyang